Sungai Batanghari bagi masyarakat Jambi bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan yang menyimpan sejarah panjang peradaban Melayu. Namun, kondisi sungai terpanjang di Sumatera ini kian memprihatinkan akibat pencemaran yang terus meningkat. Oleh karena itu, program Penyelamatan Batanghari kini menjadi prioritas utama pemerintah provinsi Jambi bersama masyarakat luas. Fokus utama dari kampanye ini adalah gerakan masif untuk mengubah perilaku masyarakat dalam membuang sampah dan limbah cair ke sungai. Kesadaran kolektif sangat diperlukan karena upaya pembersihan secara fisik tidak akan membuahkan hasil maksimal tanpa adanya perubahan gaya hidup. Sebagai bagian dari kampanye lingkungan, masyarakat juga mulai diperkenalkan pada penggunaan batik alami limbah yang membuktikan bahwa pemanfaatan sisa produksi secara bijak dapat mengurangi beban polusi pada ekosistem perairan.
Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana Jambi mampu tanggulangi limbah domestik yang berasal dari pemukiman padat penduduk di sepanjang bantaran sungai. Selama puluhan tahun, sungai dianggap sebagai tempat pembuangan akhir yang paling mudah, padahal dampak kesehatannya sangat buruk bagi warga itu sendiri. Pemerintah kini mulai membangun Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) di beberapa titik strategis untuk menyaring zat berbahaya sebelum air kembali dialirkan ke sungai. Selain itu, pemasangan jaring penahan sampah di muara-muara anak sungai juga terus dilakukan secara rutin untuk meminimalisir masuknya sampah plastik ke aliran utama Batanghari.
Aksi penyelamatan ini juga melibatkan sektor swasta dan komunitas peduli lingkungan yang aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan desa-desa. Mereka memberikan edukasi mengenai cara pembuatan kompos dari limbah dapur dan pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Partisipasi aktif dari generasi muda Jambi diharapkan mampu menjadi motor penggerak bagi perubahan lingkungan yang berkelanjutan. Di beberapa wilayah, masyarakat bahkan mulai membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) untuk mengelola sampah secara mandiri dan bernilai ekonomis. Sampah-sampah anorganik dikumpulkan dan dijual ke bank sampah, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk cair.
