Penjaga Jambi yang Terlupakan: Kisah Hidup Suku Anak Dalam di Hutan Sawit

Kehidupan di dalam atau di pinggiran perkebunan kelapa sawit memberikan tekanan luar biasa bagi masyarakat adat ini. Hutan sawit bukanlah hutan bagi mereka; ia adalah lahan yang asing, gersang dari keanekaragaman hayati, dan tertutup oleh aturan-aturan kepemilikan lahan yang rumit. Sebagai Penjaga Jambi, Suku Anak Dalam kehilangan kedaulatan atas ruang hidupnya. Mereka sulit menemukan air bersih karena banyak sungai yang mulai tercemar limbah atau mengering akibat pola tanam monokultur. Mencari hewan buruan atau tanaman obat kini menjadi kegiatan yang berisiko tinggi karena dianggap memasuki wilayah konsesi tanpa izin.

Kisah hidup mereka adalah potret nyata dari dampak pembangunan yang tidak inklusif. Banyak dari anggota Suku Anak Dalam yang terpaksa hidup berpindah-pindah di bawah tenda plastik di pinggir jalan lintas Sumatera atau di bawah tegakan sawit yang bukan milik mereka. Kehilangan Hutan berarti kehilangan identitas, agama, dan sistem sosial. Bagi Orang Rimba, hutan adalah Tuhan yang memberikan kehidupan, dan ketika hutan itu hilang, mereka merasa kehilangan arah. Upaya pemerintah untuk melakukan pemukiman kembali (resettlement) seringkali gagal karena tidak mempertimbangkan aspek sosiologis dan budaya mereka yang sangat terikat dengan alam bebas.

Tantangan kesehatan dan pendidikan juga menjadi momok menakutkan bagi generasi muda mereka. Paparan zat kimia dari pestisida di perkebunan sawit mulai berdampak pada kesehatan fisik anak-anak Suku Anak Dalam. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan formal seringkali terhambat oleh stigma negatif dari masyarakat luar dan kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan hidup mereka di rimba. Mereka berada dalam kondisi Terlupakan, di mana bantuan seringkali datang hanya saat ada konflik lahan yang mencuat ke media massa, setelah itu mereka kembali ditinggalkan dalam kesunyian perjuangan mereka sendiri.

Melihat masa depan Suku Anak Dalam membutuhkan keberanian politik untuk mengakui hak ulayat mereka secara nyata. Tidak cukup hanya dengan bantuan sembako atau pakaian bekas; mereka membutuhkan jaminan ruang hidup yang berdaulat. Hutan-hutan tersisa harus diproteksi dari ekspansi sawit lebih lanjut agar mereka bisa tetap hidup sesuai dengan cara yang mereka yakini. Jika keberadaan mereka terus diabaikan, maka kita tidak hanya kehilangan sebuah kelompok etnis, tetapi juga kehilangan pengetahuan tradisional yang sangat berharga tentang pelestarian alam yang telah mereka praktikkan selama ribuan tahun di tanah Jambi.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa