Di tengah riuhnya informasi digital yang mengalir deras, ada suara-suara sunyi dari masa lalu yang kini mulai meredup keberadaannya. Upaya Menyelamatkan Tradisi Lisan di Provinsi Jambi kini menjadi agenda mendesak yang melibatkan para budayawan, akademisi, dan generasi muda. Sastra tutur, yang dahulu menjadi media pendidikan moral dan hiburan utama di pemukiman sepanjang aliran Sungai Batanghari, kini menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan di mata generasi Z yang lebih akrab dengan gawai daripada cerita para tetua.
Kekayaan Sastra Tutur di Jambi mencakup berbagai bentuk, mulai dari Tadung, Dideng, hingga mantra-mantra pengobatan yang disampaikan dengan nada puitis yang khas. Tradisi ini bukan sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan rekaman sejarah, adat istiadat, dan nilai filosofis masyarakat Melayu Jambi. Di dalam setiap bait yang diucapkan oleh para pelantun tutur, terdapat pesan mendalam tentang cara memperlakukan alam, cara berinteraksi dengan sesama manusia, dan penghormatan kepada sang pencipta. Hilangnya sastra ini berarti hilangnya sebagian identitas bangsa.
Wilayah Jambi sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadikan sastra tutur sebagai daya tarik wisata budaya. Namun, kenyataannya banyak maestro atau penutur asli yang sudah berusia lanjut tanpa ada penerus yang siap melanjutkan estafet tersebut. Kondisi ini menempatkan warisan budaya kita di ambang kepunahan. Tanpa adanya dokumentasi yang sistematis dan upaya regenerasi yang nyata, pola komunikasi unik ini akan terkubur bersama para pemiliknya. Digitalisasi menjadi salah satu jalan keluar, namun tantangannya adalah bagaimana menjaga “ruh” dari pertunjukan tutur tersebut agar tidak hilang saat dipindahkan ke medium video atau audio.
Fenomena Kepunahan tradisi ini dipicu oleh banyak faktor, salah satunya adalah pergeseran nilai sosial. Dahulu, sastra tutur dipentaskan dalam acara-acara besar seperti pernikahan atau panen raya. Kini, panggung-panggung tersebut lebih banyak diisi oleh hiburan modern yang dianggap lebih bergengsi. Untuk membalikkan keadaan, sastra tutur harus “turun gunung” dan masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal maupun kegiatan komunitas kreatif. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mereinterpretasi sastra tutur ke dalam bentuk-bentuk baru, seperti musik kontemporer, film pendek, atau bahkan konten media sosial tanpa menghilangkan esensi aslinya.
