Panduan Suara Jambi: Praktik Pertanian Ramah Lingkungan di Lahan Gambut
Provinsi Jambi memiliki luas wilayah gambut yang signifikan, yang jika tidak dikelola dengan tepat, dapat menjadi sumber masalah lingkungan seperti kebakaran hutan dan emisi karbon yang tinggi. Namun, di sisi lain, wilayah ini menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan bijak. Mengadopsi Pertanian Ramah Lingkungan menjadi solusi paling efektif untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas petani dan kesehatan ekosistem. Melalui pendekatan yang tepat, petani dapat menghasilkan komoditas unggulan tanpa harus merusak struktur alami tanah yang sangat sensitif tersebut.
Tantangan terbesar dalam mengolah Lahan Gambut adalah karakteristik tanahnya yang asam dan mudah terbakar jika kehilangan kelembapan. Oleh karena itu, praktik pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) wajib diterapkan secara disiplin. Selain mencegah kabut asap, metode ini juga menjaga nutrisi alami tanah agar tidak hilang akibat suhu ekstrem saat pembakaran. Penggunaan pupuk organik dan mikroba dekomposer menjadi kunci untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut secara alami tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis yang dapat merusak kualitas air di sekitarnya.
Salah satu Pertanian Ramah Lingkungan yang mulai populer adalah sistem budidaya tanaman yang adaptif terhadap kondisi lahan basah atau yang dikenal dengan istilah paludikultur. Tanaman seperti kopi liberika, pinang, dan beberapa jenis tanaman hutan penghasil hasil hutan bukan kayu (HHBK) terbukti mampu tumbuh optimal di tanah gambut yang tetap terjaga tinggi airnya. Dengan menjaga lahan tetap basah, risiko kebakaran dapat ditekan secara drastis sementara petani tetap bisa mendapatkan penghasilan dari komoditas yang memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun ekspor.
Pemerintah daerah melalui berbagai Panduan teknis terus mendorong pembentukan kelompok tani peduli api dan desa mandiri gambut. Edukasi mengenai pentingnya sekat kanal (canal blocking) menjadi sangat krusial. Sekat kanal berfungsi untuk mengatur tinggi muka air tanah, sehingga pada musim kemarau, lahan gambut tidak menjadi kering kerontang dan mudah terbakar. Pengelolaan air yang terintegrasi ini merupakan jantung dari pertanian berkelanjutan di wilayah pesisir Jambi, yang juga berdampak pada pencegahan intrusi air laut ke lahan pertanian warga.
